Melepas Dahaga dari Tepi Jalan

Melepas Dahaga dari Tepi Jalan



Terik matahari tepat membakar di pucuk kepala, bahkan keringat pun tak berhenti mengucur. Berjalan sejauh 200 meter cukup membuat kaki merasa ngilu. Di tengah panasnya siang ini, tenggorokan ku kembali menelan saliva usai mata menangkap jejeran minuman dingin yang ditata diatas gerobak tak jauh dari tempatku berdiri, kira-kira dua atau tiga meter. Minuman-minuman itu seolah menatap menggoda padaku.

Mataku jatuh pada minuman dengan label berwarna merah, sehingga aku membawa kakiku melangkah mendekat padanya. Aku berhenti sesaat menatap jejeran minuman dingin dihadapanku, menimang-nimang kembali apakah aku akan membawa pulang minuman manis berslogan 'Rasakan Semangat Hidup' itu. Tiba-tiba terbesit ucapan ibuku. Kepala ku menggeleng pelan, pasti aku akan kembali melihat mulut manisnya itu mengoceh apabila aku membawa pulang 'si merah'.

Ku-urungkan niatku dan menjatuhkan pilihanku pada minuman berlabel biru pilihan sejuta umat yang punya opini dapat membuat diriku fokus. Pilihan yang bagus jika tidak ingin sang ibunda tercinta mengoceh, lagipula setelah dipikirkan kembali minuman manis kurang cocok untuk melepaskan dahaga usai kelelahan. Air putih dingin lebih baik daripada yang manis-manis untuk menurunkan suhu tubuh usai kepanasan terbakar teriknya sang surya hari ini.

Tanganku bergerak merogoh saku dan menyodorkan uang selembar lima ribuan pada bapak paruh baya sang pemilik dagangan, kemudian aku kembali melangkah beberapa langkah ke depan. Hiruk pikuk kendaraan lalu lalang menjadi tontonan siang ini, debu-debu berterbangan kesana-kemari. Beginilah kenyataan kota metropolitan, 'Sang Ibukota'. Aku bergerak memperbaiki kembali letak maskerku, bagiku bukan hal asing lagi panas dan debu menjadi teman di sini.

Hingga pada akhirnya ojek online yang akan membawa diriku pulang kerumah tiba dihadapanku. Sudah menjadi rutinitas atau kebiasaan bagiku untuk menyisihkan uang untuk ojek online seusai pulang bekerja. Tanganku mengerat menggengam air minum dingin itu, hingga menjalar yang membuat telapak tanganku sedikit ngilu. Air dingin ini sungguh melepas dahaga usai ia tiba ke tenggorokanku. 


Komentar