Melepas Dahaga dari Tepi Jalan
Melepas Dahaga dari Tepi Jalan Terik matahari tepat membakar di pucuk kepala, bahkan keringat pun tak berhenti mengucur. Berjalan sejauh 200 meter cukup membuat kaki merasa ngilu. Di tengah panasnya siang ini, tenggorokan ku kembali menelan saliva usai mata menangkap jejeran minuman dingin yang ditata diatas gerobak tak jauh dari tempatku berdiri, kira-kira dua atau tiga meter. Minuman-minuman itu seolah menatap menggoda padaku. Mataku jatuh pada minuman dengan label berwarna merah, sehingga aku membawa kakiku melangkah mendekat padanya. Aku berhenti sesaat menatap jejeran minuman dingin dihadapanku, menimang-nimang kembali apakah aku akan membawa pulang minuman manis berslogan 'Rasakan Semangat Hidup' itu. Tiba-tiba terbesit ucapan ibuku. Kepala ku menggeleng pelan, pasti aku akan kembali melihat mulut manisnya itu mengoceh apabila aku membawa pulang 'si merah' . Ku-urungkan niatku dan menjatuhkan pilihanku pada minuman berlabel biru pilihan sejuta umat yang punya opi...