Memberantas Rabies

 Memberantas Rabies

Resume


Judul                : "Memberantas Rabies"
Tema                : Perjuangan Memberantas Penyakit Rabies
Narasumber    : Tri Satya Putri Naipospos (Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies)
Tanggal            : 10 September 2018


Sejak awal peradaban manusia tepatnya pada masa Babylonia 2300 tahun sebelum masehi, penyakit Rabies sudah dikenal. Penyakit rabies ditemukan pada abas ke-5 oleh Democriticus dan Hippocrates (Bapak Kedokteran). Begitu juga dengan artefak dan naskah kedokteran mengenai rabies, banyak ditemukan di Persia, India, China, Perancis, Inggris, dan Spanyol.

Rabies 95 persen ditularkan melalui gigitan anjing dan lebih dari setengah penduduk bumi khawatir akan penularan tersebut. Lebih dari 55.000 orang meninggal setiap tahunya, dengan persen kematian di Afrika dan Asia. 

Dahulu dunia mempunyai harapan saat ditemukannya vaksin rabies oleh Louis Pasteur pada abad ke-18. Namun, upaya pengendalian rabies dengan meningkatkan skala program vaksinasi hewan dan menyiapkan bahan biologik pro-filaksis post-exposure dan pre-exposure untuk manusia, ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan masalah rabies.


Rabies di Bali

Di Indonesia rabies sudah ada sejak abad ke-18 dan belum bisa diberants hingga kini. Sudah 10 tahun sejak 2008, rabies sudah berjangkit di Pulau Bali, serta 20 tahun di Pulau Flores dan Pulau Lembata, Nusa Tenggara Timur. Perjuangan memberantas rabies dari populasi hewan menular, terutama anjing sudah dimulai sejak beberapa tahun silam, banyak penelitian dan survei dilakukan di daerah endemik, tetapi kasus masih bermunculan.

Rabies kembali merenggut jiwa pada Agustus 2018, yaitu satu korban dewasa asal Kabupaten Karangasem, Bali dan seorang anak perempuan di Kabupaten Sikka, NTT. Total kematian akibat rabies di Pulau Bali menjadi 169 orang dan di Nusa Tenggara Timur menjadi 281 orang.

Di Bali, isu rabies menjadi ancaman bagi pariwisata. Peringatan perjalanan beberapa kali dikeluarkan terutama bagi turis Amerika, Inggris, dan Australia. Advis untuk turis adalah selalu waspada dan berhati-hati di Bali, terutama untuk tidak kontak dengan anjing dan monyet.Sebelum vaksinasi digalakan, pembasmian masal menjadi respon darurat. Suatu pendekatan yang sangat tidak tepat dalam menghadapi wabah wabies. 

Hal tersebut tentu keliru bahwa dengan mengurangi populasi anjing akan mengurangi penularan rabies. Pembunuhan masal anjing tidak dapat mengatasi sumber hewan baru yang berasal dari kelahiran. Justru pemusnahan dapat melenyapkan hewan yang telah divaksin sehingga mengurangi cakupan vaksinasi dan menimbulkan kenaikan penularan rabies begitu populasi anjing kembali pulih.

Selain itu pembasmian membuat masyarakat menjadi resisten yang menurunkan antusiasme masyarakat untuk kegiatan pengendalian rabies. Pemerintah Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Timur telah melaksanakan program vaksinasi massal rabies sejak 2011 untuk mencapai target cakupan 70 persen, tetapi belum tampak hasilnya. 


Target bebas rabies 2030

Pada tahun 2015, badan-badan internasional, seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Pangan Dunia (FAO), Global Alliance for Rabies Control (GARC), berkomitmen membantu berbagai negara untuk memberantas rabies. Komunitas internasional juga mendeklarasikan tekad bersama nol kasus rabies pada tahun 2030.

Penyakit rabies pada anjing telah diberantas di Eropa Timur, Kanada, Amerika Serikat, dan Jepang era 1950-1980. Bahkan beberapa negara di Amerika Latin melaporkan bahwa tidak ada lagi kematian manusia akibat rabies. Sejumlah negara juga berhasil menurunkan angka kematian akibat rabies, seperti Bangladesh, Fillipina, Sri Lanka, dan Tanzania.

Dari hal tersebut pertanyaan kritis saat ini adalah, apakah pemberantasan rabies pada sumbernya yaitu anjing dapat dicapai? Pengetahuan kuantitatif tentang dinamika penularan rabies pada populasi anjing, pengetahuan kuantitatif tentang demografi anjing, dan efektivitas strategi vaksinasi lokal adalah solusinya. Bukti empiris dan studi lapangan menunjukkan, vaksinasi rabies tahunan mencapai 70 persen dari populasi anjing adalah efektif. 

Menurut WHO, vaksinasi massal yang konsisten dapat mengeleminasi rabies setelah 7-10 tahun. Dengan demikian, pengendalian berkelanjutan pengendalian berkelanjutan seperti di Indonesia dapat dilakukan. Kepadatan populasi anjing di Indonesia khususnya dua pulau di atas, tidak terlepas dari pengaruh budaya dan agama. Indonesia sudah seharusnya memangaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya untuk menurunkan hotspot rabies dunia, untuk mendukung dunia hidup tanpa rabies.

Dalam mencapai rabies nol kasus diperlukan strategi tingkat nasional dan regional. Komplemen kegiatan berupa edukasi masyarakat, manajemen populasi dengan registrasi dan sterilisasi, serta respon cepat terhadap korban gigitan ajing dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan oleh pemerintah dengan partisipasi lembaga swadaya masyarakat.


Sumber: Kompas oleh Tri Satya Putri Naipospos (10 September 2018  03:00 WIB)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Melepas Dahaga dari Tepi Jalan