Dua Sosok 'Presiden Darurat' Indonesia yang Dilupakan
Dua Sosok 'Presiden Darurat' Indonesia yang Dilupakan
Natasya Gabriella
Presiden Indonesia Ada Sembilan?
Pada umumnya sejak duduk di bangku sekolah, kita sebagai masyarakat Indonesia tentu hanya mengenal delapan sosok yang menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia sejak Republik Indonesia resmi berdiri pada tahun 1945 sebagai sebuah negara. Sepanjang kurun waktu 75 tahun terakhir, rakyat Indonesia telah merasakan berbagai pergantian penguasa.
Dimulai oleh presiden pertama yakni Ir. Soekarno, lalu presiden kedua, Soeharto, B. J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan yang terakhir hingga detik ini, Republik Indonesia dipimpin oleh Presiden Joko Widodo.
Namun jika kita kembali menilik sejarah, Bangsa Indonesia mencatat dua nama lain yang pernah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia. Dan jika ditotalkan, Indonesia memiliki sembilan orang yang pernah menjabat sebagai presiden. Siapakah Mereka? Mereka adalah Syafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat, dua tokoh yang memiliki peran penting dalam sejarah. Kedua sosok tersebut menduduki kursi presiden pada saat situasi negeri ini sedang darurat.
Awal kemerdekaan, tahun 1945 - 1950 menjadi masa sulit Republik Indonesia. Syafruddin Prawiranegara mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Sumatera Barat sebagai upaya mempertahankan kedaulatan usai Presiden Soekarno dan rekannya ditangkap oleh Belanda di Yogyakarta. Sedangkan Mr. Assaat menjabat sebagai presiden Republik Indonesia ketika Ir. Soekarno menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS)
207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia
(22 Desember 1948 - 13 Juli 1949)
Tahun 1945 hingga 1940 adalah masa peralihan penting dan genting bagi Indonesia sebagai sebuah negara yang baru berdiri. Sejarah mencatat, Syafruddin memimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 22 Desember 1948, tepatnya pada saat Pemerintahan Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta di jatuh ke tangan Belanda dan pemimpinnya, yakni Ir. Soekarno diasingkan ke luar Pulau Jawa.
Peristiwa tersebut bermula pada saat berlangsungnya Agresi Militer Belanda II pada tanggal 19 Desember 1948 di Ibukota Yogyakarta. Beberapa Pemimpin Indonesia berhasil dilumpuhkan oleh Belanda, termasuk Ir. Soekarno beserta wakilnya, Mohammad Hatta. Sebelum hal tersebut terjadi, Soekarno sempat melaksanakan rapat terbatas di Kota Gudeg yang membahas langkah strategis disituasi darurat, termasuk memindahkan pemerintahan ke Sumatera Barat.
Oleh karena itu, Syafruddin mengambil inisiatif untuk membentuk pemerintahan darurat dan susunan kabinetnya. Peran Pemerintahan Darurat Republik Indonesia, pihak Belanda terpaksa berunding dengan Indonesia. Melalui perundingan tersebut terjadilah Perjanjian Roem-Royen, yang dimana Belanda memutuskan mengakhiri Agresi Militernya. Bersamaan dengan hal tersebut, Soekarno dan rekannya dibebaskan dan dapat pulang ke Yogyakarta.
Setelah Ir. Soekarno dibebaskan, diselenggarakan sidang PDRI bersama Soekarno, Mohammad Hatta, dan sejumlah menteri dan kabinetnya. Pada sidang tersebut, Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) kembali menyerahkan mandat kekuasaanya secara resmi kepada Presiden Soekarno pada 14 Juli 1949 di Jakarta. Dan Syafruddin kembali menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Republik Indonesia tahun 1949 dan Menteri Keuangan tahun 1950.
Pada tahun 1958, Syafruddin diangkat sebagai perdana menteri Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dianggap sebagai penentang atau pengkhianat kebijakan pemerintahan pusat. Kelompok tersebut dianggap sebagai upaya menandingin pemerintahan yang dipimpin Soekarno. Hal tersebut tidak berlangsung lama, Soekarno meluncurkan operasi militer untuk menumpas PRRI.
Pada akhirnya, gerakan tersebut berhasil ditumpas yang dimana para pemimpinnya ditangkap dan menyerahkan diri termasuk Syafruddin Parawiranegara. Pria kelahiran 28 Februari 1911 itu menyerahkan diri dan dalam pernyataan ia mengatakan, "Saya ingin mati di dalam islam dan ingin menyadarkan bahwa kita tidak perlu takut kepada manusia, tetapi takutlah kepada Allah."
Hal tersebut membuktikan betapa hebat dan beraninya ia. Meski ia ditangkap atas pengkhiatan, Syafruddin adalah sosok pahlawan dan pejuang Kemerdekaan Indonesia yang banyak menyumbang peran pada Indonesia. Melalui kepepimpinannya yang singkat, ia membawa dampat besar bagi Indonesia, yakni mempertahankan kedaulatan untuk menyelamatkan Sumatera dari Belanda.
Mr. Assaat Sang Datuk Mudo
(27 Desember 1949 - 15 Agustus 1950)
Selain Syafruddin Parawiranegara, sosok lain yang pernah menduduki kursi jabatan Presiden Republik Indonesia yakni Mr. Assaat. Ia adalah seorang yang bergelar Datuk Mudo. Mr. Assaat memimpin Republik Indonesia selama kurang lebih 9 bulan. Ia adalah salah satu rekan Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta yang ikut diasingkan pada saat Agresi Militer II dimana kepemimpinan Indonesia dijalankan oleh Pemerintahan Darurat Republik Indonesia.
Pada 19 Desember 1949 Pemerintah Indonesia menghadiri dan mengakui perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang diselenggarakan di Den Haag, Belanda yang dimana pada akhirnya Indonesia akan dibagi menjadi 16 bagian dan terbentuklah Republik Indonesia Serikat (RIS). Hal tersebut mengakibatkan Soekarno dan Mohammad Hatta harus menjabat sebagai pemimpin Republik Indonesia Serikat (RIS), sementara pemerintahan Republik Indonesia dalam posisi kosong.
Melihat hal tersebut, Presiden Soekarno memerintahkan Mr. Assaat untuk mengisi kekosongan tersebut. Diberitakan, surat kabar Merdeka, pada 27 Desember 1949 Mr. Assaat dilantik di Istana Kepresidenan Yogyakarta. Salah satu alasan dilantiknya Mr. Assaat menjadi presiden adalah agar andai kata Republik Indonesia Serikat tidak sepaham dan tak sejalan dengan jalan Indonesia, Republik Indonesia masih dapat berdiri.
Setelah penyerahan mandat, Mr. Assaat membentuk pemerintahan yang dibantu oleh beberapa tokoh Republik Indonesia dalam menjalankan tugasnya. Selama mengisi jabatan presiden, beliau mengadakan perjalanan kerja untuk menengok keadaan di beberapa daerah. Selain itu, pada saat ia menjadi acting presiden sementara Republik Indonesia, Assaat berperan penting dalam pendirian Universitas Gadjah Mada (UGM) yang merupakan universitas pertama yang dibangun oleh Indonesia.
Pengembalian jabatan Presiden Republik Indonesia kembali ke tangan Soekarno diadakan pada 15 Agustus 1950. Peristiwa tersebut disahkan dengan pembacaan pernyataan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) oleh Soekarno pada saat rapat gabungan.
Ketika Soekarno menjalankan demokrasi terpimpin, Assaat menentang keputusan tersebut. Ia menentang sikap politik presiden yang seolah memihak Partai Komunis Indonesia (PKI). Hal tersebut mengakibatkan Mr. Assaat sempat diasingkan ke Pulau Bangka karena kegiatan beratnya selama masa pergerakan. Ia baru diebebaskan setelah Orde Baru berdiri. Beliau meninggal dunia pada 16 Juni 1976 di usianya yang ke 72 tahun.
Mengenai perjalanan hidupnya, Mr. Assaat lahir di Sumatera Barat pada 18 September 1904 dan ia mendapat gelar Datuk Mudo. Assaat mengawali pendidikannya di Sekolah Agama Adabiah. Saat remaja, ia bersekolah di Rechts Hoge School (RHS) yang merupakan sekolah hukum di Jakarta. Setelah lulus, ia aktif dalam berbagai organisasi kemerdekaan seperti Jong Sumatranen Bond, Perhimpunan Pemuda Indonesia, dan Indonesia Muda.
Karena aktif dalam gerakan politik, Asaat tidak kunjung diluluskan dari RHS meski sudah mengikuti beberapa kali ujian. Merasa hal tersebut sia-sia ia memutuskan untuk pindah ke Universitas Leidin, Belanda. Di sini ia berhasil lulus dan mendapatkan gelar Meester in de Rechten atau setara Sarjana Hukum. Kemudian ia kembali ke tanah air dan bekerja sebagai advokat pada tahun 1939 hingga 1942.
Itulah dua presiden sementara Indonesia yang terlupakan namun tercatat dalam sejarah. Mereka tidak dijadikan presiden resmi Indonesia karena belum menjabat selama 1 tahun. Walau menjabat kurang dari 1 tahun, peran dan pengorbanan dua sosok tersebut dalam pemerintahan Indonesia sangat besar. Keberanian mereka patut untuk dihargai dan diingat. Oleh karena itu, kita jangan sekali-kali melupakan sejarah.
"Jangan pernah melupakan sejarah. Ini akan membuat dan mengubah siapa diri kita." - Ir. Soekarno
Sumber: Wikipedia/Syafruddin_Prawiranegara & Wikipedia/Assaat
Komentar
Posting Komentar